Resume Biografi

Panggil Aku King




       Panggil aku King merupakan sebuah buku biografi yang ditulis oleh Robert Adhi Ksp. Dalam buku tersebut diceritakan perjalan Liem Swi King menapaki karir sebagai atlet bulutangkis yang dimulai dari turnamen pertamanya pada Liga Jateng sampai dia berhasil  membawa Indonesia menjuarai Piala Thomas. 
            Liem Swi King merupakan salah satu pemain bulutangkis terbaik Indonesia. King (panggilan akrab Liem  Swi King) sudah beberapa kali menjuarai ajang bergengsi seperti All England, Asian Games, Sea Games dan juga sering mewakili Indonesia dalam kompetisi beregu Thomas Cup. King merupakan anak ke tujuh dari delapan bersaudara yang lahir pada tanggal 28 Februari 1958 di Kudus Jawa Tengah. King dilahirkan dari seorang ayah yang bernama Ng Thian Poo dan ibu yang bernama Oei See Moi dan merupakan satu satunya anak laki laki diantara saudara saudaranya, sebenarnya King memiliki seorang kakak laki laki tetapi meninggal dunia dalam sebuah kecelakaan sepedah motor.
            Liga Jateng merupakan turnamen pertama yang dijalani oleh Liem Swi King, tetapi King harus kalah di final dari Kusmanto. Setelah kekalahan tersebut King di datangi oleh seorang laki laki yaitu Robert Budi Hartono untuk masuk kedalam sebuah klub bulutangkis yaitu PB Djarum. Akhirnya pada tahun 1971 Liem Swi King menjadi anggota pertama dalam klub Bulutangkis tersebut. Ketika usia 15 tahun, King memenangkan kejuaraan Junior se Jawa Tengah di Magelang. Pada tahun 1974 merupakan pengalaman pertama King mengikuti All England dan menempati unggulan ke enam.
            King semakin mengembangkan karirnya dengan ikut serta dalam Asian Games ke VII di Teheran pada tahun 1974, namun King harus kalah di semifinal dan harus pulang dengan membawa medali perunggu. Tahun 1975 merupakan tahun terberat bagi Liem Swi King karena dia harus memutuskan antara melanjutkan kuliah atau berkarir dalam dunia bulutangkis, namun akhirnya King memutuskan untuk melanjutkan karirnya dalam bidang bulutangkis. Di usia yang masih cukup muda dan beberapa prestasi yang telah berhasil di raihnya Liem Swi King di nobatkan sebagai olahragawan terbaik versi SIWO PWI Jaya yaitu sebuah organisasi wartawan pada tahun 1975.
            Tahun 1976 King masuk dalam Tim Thomas Cup yang akan bertanding di Bangkok. King berhasil memenangkan pertandingan sehingga dia dapat mengamankan satu poin bagi Indonesia. Indonesia dapat mengambil beberapa turnamen dan akhirnya Indonesia berhasil membawa pulang gelar piala Thomas yang kelima kali bagi tanah air tercinta. Setibanya di Indonesia tim Thomas disambut penuh suka cita oleh seluruh masyarakat Indonesia, bahkan jari tangan King berdarah karena harus menyalami para penggemar yang sangat bahagia atas kemenangan Indonesia.
            Prestasi King semakin tidak terbendung lagi setelah berhasil membawa pulang piala Thomas yang kelima ke Indonesia, King juga berhasil menjuarai Asean Games dengan membabat Hongkong di Hyderabad India hanya dalam waktu 10 menit dengan skor yang sangat menakjubkan yaitu 15-0 di set pertama dan kedua. Namun roda terus berputar kadang diatas, kadang juga dibawah ketika menjalani laga di Malmo, King harus menelan kekalahan dari Kihlstroem secara rubber game. Pada saat itu kaki King berdarah karena goresan dari sepatu yang dia pakai. King sempat meminta izin kepada wasit untuk berganti sepatu tetapi wasit tidak memberi izin kepada King. Setelah kalah dari Kihlstroem King tidak pernah terkalahkan lagi selama 33 bulan. Pada tahun 1978 King berhasil menjadi juara baru All England mengalahkan seniornya Rudy Hartono dengan perolehan skor 15-10 dalam waktu 18 menit pada set pertama, dan 15-3 dalam waktu 8 menit pada set kedua.
            Asian Games merupakan sebuah perhelatan akbar dari berbagai macam cabang olahraga di seluruh Benua Asia. Indonesia mengirimkan 68 atlet dari beberapa cabang olahraga untuk berjuang membawa harum nama Bangsa Indonesia di kancah Asia. Dalam perhelatan Akbar Asian Games, Indonesia berhasil meraih 8 medali emas, 7 perak, dan 18 medali perunggu. Bulutangkis menyumbangkan medali terbanyak diantara cabang olahraga lainnya yaitu dengan membawa pulang 4 medali emas, 2 perak, dan 3 medali perunggu.
            Tahun 1979 menjadi sebuah tahun berharga bagi King karena dia berhasil menyabet dua gelar bergengsi sekaligus. King mengawali tahun 1979 dengan memenangkan Kejuaraan Dunia bulutangkis di Tokyo pada bulan Januari. Selain itu King juga berhasil menjuarai All England untuk kedua kalinya. Karena banyaknya prestasi yang ditorehkan oleh King melalui bulutangkis, King sampai menganggap bahwa raket adalah pacarnya dikarenakan besarnya cinta King kepada raketnya
            Dibalik prestasi prestasi gemilang yang banyak ditorehkan, ternyata King juga pernah mendapat pengalaman buruk yaitu kalah WO dari pemain Singapura Lee Hai Tong  pada Sea Games X tahun 1979 di Jakarata. King mengira pertandingannya akan dilaksanakan pada malam hari ternyata pertandingan King dengan pebulutangkis Singapura tersebut terjadi pada pagi hari, padahal malam hari sebelumnya King baru saja menjalani pertandingan. Akibat dari kelalaian tersebut King harus menjalani skorsing dari PBSI selama tiga bulan yaitu mulai bulan Oktober sampai Desember. Selain itu King juga dilarang mengikuti turnamen internasional di Kanada dan di Australia. Walaupun King harus menjalani skorsing selama tiga bulan, dia tidak pernah larut dalam kesedihan dan memanfaatkan waktu tiga bulan tersebut dengan hal hal yang bermanfaat. Untuk mengisi waktunya selama skorsing King bermain film yang berjudul “Sakura dalam Pelukan” yang tayang pada tanggal 8 Agustus 1979. Melalui perannya dalam film tersebut King mampu mendapatkan honor sebesar 15 juta.
            Setelah menjalani skorsing selama tiga bulan King kembali ke lapangan bulutangkis untuk membela Indonesia, namun performa King tidak sebaik sebelumnya. Dalam laga perdana setelah skorsing King harus menelan kekalahan dari Han-Jian, setelah itu King kalah dalam turnamen All England ketika melawan Prakash Padukone dari India. Tetapi setelah kekalahan kekalahan yang terjadi, King mampu bangkit kembali dengan berhasil memenangkan Turnamen antar Master di London yang berhasil mengalahkan Rudy Hartono dan Prakash Pradukone. Pada tahun 1981 King berhasil menjuarai All England dengan mengalahkan Prakash Padukone dari India. Namun dalam All England tahun1982 King ditumbangkan oleh Morter Frost Hansen. Disamping itu King juga berhasil menjuarai beberapa turnamen bergengsi internasional diantaranya Piala Dunia Alba di Malaysia yang berhasil mengalahkan Misbun Sidek dan Kejuaraan Malaysia Terbuka yang dengan mengalahkan rekannya sendiri dari Indonesia Hastomo Arbi.
            Pada tahun 1984 King kembali mengikuti turnamen All England untuk kesekian kalinya setelah pada tahun 1983 absen. King masuk sebagai unggulan ke tiga dan dia berhasil masuk final untuk ke tujuh kalinya sejak tahun 1976. Namun pada final All England tahun tersebut King harus menerima kekalahan dari Hansen. Setelah kalah King berfikir kapan dia akan menjadi juara dunia lagi, dia mengira bahwa itu adalah kesempatan terakhir baginya mengingat usia King yang sudah tidak muda lagi.
            Tahun 1984 juga merupakan tahun dimana terselanggaranya kejuaraan bulutangkis beregu yaitu Thomas Cup. Semua masyarakat Indonesia berharap Indonesia dapat membawa pulang kembali trofi bergengsi tersebut, tidak terkecuali presiden Indonesia pada saat itu yaitu Bapak Soeharto. Pak Harto berpesan agar seluruh atlet berjuang maksimal dan jangan mengecewakan rakyat, beliau juga berpesan Jagalah kesehatan, disiplin, dan persatuan tim.
            Setelah melalui babak penyisihan, perdelapan final, perempat final, dan semifinal yang penuh dengan perjuangan, akhirnya Tim Thomas Indonesia dapat melaju ke final dengan China sebagai lawannya. Dalam partai final tersebut King bermain rangkap yaitu sebagai tunggal putra dan ganda putra. King dipasangkan dengan Kartono ketika bermain sebagai ganda, saat itu King bermain dalam partai penentu kemenangan di final, akhirnya King dan pasangannya Kartono dalpat menyelesaikan perlawanan dari China dan berhasil membawa pulang trofi Thomas Cup ke Indonesia. Tanpa diduga ternyata papa King menyaksikan langsung pertandingan tersebut tanpa sepengetahuan King karena takut akan mengganggu konsentrasi King ketika bertanding. Selain itu Pak Harto juga menyaksikan turnamen tersebut dari kediamannya di kawasan Cendana namun Pak Harto tidak kuat menyaksikan pertandingan karena terlalu tegang dan bersembunyi dibawah selimut. Hanya Ny. Tien  dan Tomy yang berani melihat. Ketika Pak Harto diberitahu jika Tim Indonesia menang beliau langsung keluar kamar dan menyaksikan upacara penyerahan Piala Thomas.
            Dibalik kesuksesan yang selama ini diraih King ternyata terdapat wanita yang selalu mendukungnya yaitu Lucia Alamsyah, usia King dan Lucia terpaut empat tahun. Ketika bertemu Lucia berumur 16 tahun sedangkan King 20 tahun, mereka memiliki kesamaan yaitu sama sama anak ketujuh. King menikah setelah All England 1982, pernikahan digelar di Jakarta pada tanggal 17 April 1982, namun resepsinya dilaksanakan pada bulan Januari 1983. Dari hasil pernikahannya tersebut King dikaruniai tiga orang anak yaitu anak pertama yang bernama Alexander King yang lahir pada tanggal 14 september 1983, tiga tahun kemudian lahirlah anak perempuan pada tanggal 9 Mei 1986 yang diberi nama Stephani King, dan pada tanggal 2 Juni 1996 King dikaruniai anak perempuan lagi yang diberi nama Michelle King.
            Pada tahun 1988 King mengakhiri karirnya sebagai pemain bulutangkis dan memberikan kesaksian sebagai berikut “Aku berpikir inilah saatnya aku mundur dari dunia bulu tangkis, dunia yang kugeluti selama lebih dari 15 tahun. Aku bukan lagi King yang pada tahun1974 mengalahkan Tjun Tjun 15-0 dalam kejurnas di Semarang. Aku bukan lagi King yang pada tahun 1978 merebut juara All England. Aku bukan lagi King yang pernah selama 33 bulan tak pernah terkalahkan oleh siapapun . Aku adalah King yang pada tahun1988 berusia 32 tahun, usia yang rawan bagi olahragawan. Sudah waktunya aku mundur sebagai pemain bulu tangkis dengan kepala tegak”.
            Setelah mundur dari dunia bulutangkis King tidak melanjutkan karirnya sebagai seorang pelatih, dia lebih memilih untuk mengelola hotel Interhouse milik ayah mertuanya. King merupakan salah satu atlet yang berjiwa besar ketika banyak masyarakat yang mengkritik pemerintah karena kurang adanya perhatian pemerintah Indonesia terhadap nasib mantan pebulutangkis, King justru mengatakan jangan salahkan situasi yang ada menurut King setiap pemain seharusnya mempersiapkan diri untuk menghadapi keadaan keadaan ketika dirinya sudah tidak berjaya lagi. Atlet seharusnya harus mampu mengelola keuangannya agar dapat dimanfaatkan menjadi sebuah bentuk usaha ataupun kegiatan lainnya yang dapat menjadi bekal mereka ketika sudah tidak berjaya lagi.
            King adalah salah satu pahlawan bulutangkis Indonesia yang mampu membawa harum nama negara di kancah Internasional, perjuangan perjuangan King harus kita ingat dan kita ambil manfaatnya. Semoga perbulutangkisan Indonesia dapat berjaya dan menorehkan prestasi prestasi yang membanggakan seperti dulu kala.


*Resume ini dibuat pada saat saya tingkat 1 semester 2 (kurang lebih awal tahun 2014) ketika sedang mendapatkan tugas resume biografi Focus Group Discussion.

Comments